Oleh : KOMSARIA POHAN
SELVIA YUSTITA PANE
Resensi Novel Katak
Hendak Jadi Lembu
IdentitasBuku
Judul Buku : Katak Hendak Jadi Lembu
Pengarang : N. St. Iskandar
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1993
Kepengarangan
Nur Sutan Iskandar yang telah
menulis karya sastranya tak kurang dari 80 judul buku lahir di Maninjau,
tanggal 3 Nopember 1893. Semenjak Nur Sutan Iskandar bekerja di Balai Pustaka
ia menerbitkan hasil karyanya yang awalnya berjudul Apa Dayaku Karena Aku
Perempuan (1992). Dengan hasil kerja keras dan keteguhannya dalam dunia sastra
membuat Nur Sutan Iskandar menerbitkan berturut-turut buku yang berjudul :
Cinta yang Membawa Maut, Salah Pilih, Hulubalang Raja, Neraka Dunia, Mutiara.
Selain mempersembahkan hasil karya sastranya dalam menulis, Nur Sutan Iskandar
juga menulis buku bacaan dan terjemahan buku dari luar negeri.
ResensiNovelKatakHendakJadiLembu
Suriah, suami dari Zubaidah yang
memiliki 3 orang anak, anaknya yang laki-laki bernama Saleh yang kira-kira
berusia 12 tahun, yang sudah duduk di kelas 5 di kota Sumedang. Dan adik
perempuannya Aminah yang berusia kurang lebih 9 tahun, baru duduk di kelas 2 di
sekolah yang sama, tidak hanya dua orang itu saja, suria juga memiliki anak
sulung yanh bersekolah di Osvia, sekolah menak di Bandung. Suriah adalah suami
yang terkesan pemalas, pantang kerendahan, dan perkataanya pantang untuk
dipatahkan. Suriah sangat tidak adil besikap kepada setiap anakna, dia lebih
senang terhadap anak sulungnya yang bersekolah di Bandung, sedangkan dengan dua
anaknya lagi dia bersikap acuh tak acuh, bagai tak peduli saja. Namun tidak
untuk Zubiedah, sikap Zubaidah kepada dua anknya itu berbanding langit dan bumi
kepada Suria, Zubaidah sangat menyayangi kedua anaknya itu. Dia selalu
memberikan perhatian lebih dan kasih sayang yang sepantasnya.
Rumah
tangga Zubaidah dan Suria sesungguhnya tidaklah seelok yang terlihat, bahkan
rumah tangga mereka tiada berkecukupan. Walau begitu Suria orang tidak pernah
sadar diri dengan keadaannya, ia selalu ingin berada di antara orang-orang
terpandang dan dengan derajat yang sama. Zubaidah yang senantiasa menangguhkan
perbuatan Suria, bahkan Zubaidah laj yang berhadapan dengan orang warung karena
hutang yang Suria miliki dimana-mana. Zubaidah selalu memikirkan tentang rumah
tanganya dan anak-anaknya. Bahkan Zubaidah meningat tentang maa di mana Suria
masih mudah dulu,Suria adalah anak dari Haji Zakaria, dan keluarga mereka
adalah golongan orang berada ddi negeri itu. Hal tersebut menyebabkan Suria
manja dan tinggi hati. Meskipun masa remaja Suria masih magang yang tiada bergajitapi gaya dan lagaknya
lebih daripada juru tulis dan angkuh
serupa jaksa.
Haji
Zakalia bersahabat sangat akrab dengan Haji Hasbullah di Tasikmalaya. Haji
Hasbullah adalah ayah dari Zubaidah, kedua Haji itu sangat akrab sejak kecil
bahkan seperjalanan untuk sama-samapergi ke tanah suci. Kehidupan Haji
Hasbullah lebih kaya dan beruntung. Ia menjadi khatib yang baik hati dan ramah.
Dia mendidik anaknya Zubaidah menjadi anak yang sopan santun, berbudi pekerti,
dan mengajarkan tentang agama. Dengan engetahuisikap baik Zubaidan, Haji
Zakaria meminta kepada HajiHasbuah untuk menikahkan Zubaidah denga anaknyaSuria
yanghendak di angkat menjadi juru tulis pembantu. Apa boleh buat, permintaan
dari sahabat karibnya itu diterima oleh Haji Hasbullah tanpa meminta
persetujuan dari Zubaidah.
Akhirnya
Zubaidah dinikahkan oleh Suria tanpa diawali dengan rasa suka dan cinta. Akan
tetapi perkawinan mereka tidak bisa dikatakan tidak bahagia, mungkin saja
perangai Suria akan berubah ketika sudah menikah nanti. Namun kenyataan tidak
seperti itu, setelah Hji Zakaria meningga tabiat Suria bertambah menjadi-jadi,
ia semakin congkak dan sombong. Harta warisan yang ditinggalkan orang tuanya
kandas sudah, hawa nafsu tak dapat ditahan Suriah. Ketika Zubaidah melahirkan
anaknya yang masih kecil yaitu Abdulhalim. Tiga tahun Suria meninggalkan
Zubaidah sendiri sambil memelihara anak yang masih kecil sambil selalu berdoa
kepada Allah. Suria yang hanya berfoya-foya saja baru teringat kebenaran, baru
timbul sesal atas kecerobohannya. Suria pulang kembali ke rumah Zubaidah, dan
setelah dua tahun berlangsung dia pun diangkat menjadi juru tulis yang
dipindahkan ke kantor Patih Sumedang. Sementara anaknya Abdulhalim tinggal di
Tasikmalaya bersama dengan neneknya. Dia bersekolah di sekolah belanda dan
kemudian ke sekolah menak di bandung setelah berusia 6 tahun.
Selain menyekolahkan
cucunya itu, Haji Hasbullah juga memberikan bantuan kepada keluarga Suria, jika
mereka datang tidak sedikit mereka membawa bahan pangan sebagai buah tangan. Tidak
hanya it, Zubaidah juga selalu menceritakan kepedihan rumah tangganya kepada
orang tuanya. Sikap sombong Suria tidak kurun berubah, begitu juga ketika di
kantor. Bahkan kepada Haji Junaedi yaitu seorang yang bepangkat tinggi di
kantor melebihi Suria, memikirkan perangai menteri itu. Ia berkata dalam
hatinya, bahwasanya benar yang dikatakan orang di kota. Wajar saja jika banyak
orang yang mengingatkanku supaya jangan berkenalan dengan orang seperti dia,
dia adalah orang yang gila hormat, sombong, dan perkataannya yang selalu
meninggi. Suatu
hari di kantor Suria, ia mendengar tentang lowongan pekerjaan menjadi klerek.
Kemudian ia meminta bantuan kepada atasannya untuk mengirimkan permohonan
dirinya menjadi klerek. Suria memberitahu Zubaidah bahwa ia akan segera
diangkat menjadi klerek. Zubaidah semakin cemas dengan tingkahlaku suaminya
yang semakin hari semakin menyombongkan dirinya kepada orang lain karena kabar
kenaikan pangkatnya yang belum pasti. Sekarang, hanya Abdulhalimlah yang dapat
menyenangkan hati Zubaidah karena kabar diterimanya Abdulhalim menjadi kandidat
amtenar di kantor kabupaten Bandung. Dan kemudian Abdulhalim menikah dengan
anak jaksa kepala. Dengan gaya hidup sombong yang dijalani Suria kemalangan
terus menimpa Suria terus-menerus. Ia tidak jadi diangkat menjadi klerek.
Bahkan ia gagal untuk menikahi wanita lain, Fatima. Zubaidah selalu memberikan
nasehat dan pengarahan kepada suaminya yang bersikap sombong itu. Usaha
Zubaidah menasehati suaminya sia-sia.
Zubaidah mengalami sakit yang parah, karena sakit jantung
Zubaidah pun meninggal. Segala upaya telah dilakukan Abdulhalim dan
keluaraganya untuk menyembuhkan Ibu yang sangat ia sayangi itu. Usahanya dalam
menyembuhkan sia-sia. Tak berapa lama
mengidap penyakit jantung tersebut Zubaidah meninggal dunia. Setelah kematian
istrinya, Suria diusir dari rumah Abdulhalim.
Sekarang tinggalah Suria yang hidup di jalanan dan hidup dengan kemelaratan
setelah kematian istrinya. Ia baru menyadari semua kesalahanya terhadap
anak-bininya, ia begitu menyesali perbuatan bodoh yang telah dilakukannya.
Unsurintrinsik
1.
Tema :
sifat kesombongan dan keangkuhan yang seketika menghancurkan
Segalanya, keluarga, karir bahkan
menghancurkan diri sendiri.
2.
Tokoh
1.
Suriah : seorang menteri kabupaten, suami
dari Zubaidah, dan
Anak dari Haji Zakaria.
2.
Zubaidah :
istri dari Suriah dan anak dari Haji Hasbullah
3.
Abdulhalim : anak
pertama Suriah dan Zubaidah
4.
Saleh : anak pertama dari Suriah dan
Zubaidah
5.
Aminah
: anak ketiga dari Suriah dan Zubaidah
6.
Haji Zakaria
: Ayah dari Suria
7.
Haji Hasbullah
: Ayah dari zubaidah
8.
Khadijah : Figuran
9.
Kosim
: figuran
10.
R. Atmadi N
: juragan patih
11.
Haji Jaenudi :
figuran
12.
Nyai Salmah :
figuran
13.
Fatimah :
anak dari Haji Jaenadi dan Nyai Salamah
14.
Sastrawijaya :
Figuran
15.
Suminta :
figuran
16.
Hamzah
: Figuran
3.
Penokohan
1. Suria :
Angkuh
“ Sudah
hampir pukul tujuh, Anak-anak sudah... Acapkali benar Akang berelalai-lalai,
tidak marahkah Juragan Patih? “
“ Anak emas!-dalam segala hal juragan patih menyerah saja kepada Aakang “
2. Zubaidah
: Penyanyang
“
baik-baik di jalan, Anak,_jangan berlari, Enah... nanti jatuh, Nak. Jaga
dirimu, Aleh. Awas, sado, oto...! “ demikian kata Zubaidah dengan kasih sayang
yang tergambar terang dalam seri dan caya muka.
3. Abdulhalim
: Pemarah
Abdulhalim
naik darah. Dengan tidak disangka-sangka ia pun merentak dan berkata dengan
kasar dan keras, “ Tak jua berubah tingkah-lakunya! Meskipun Ibu... sudah
meyampaikan pendapat kita kepadanya! Tak tahan aku lagi, biar dia... enyah dari
sini. “
4. Haji
Hasbullah : Suka menolong
Haji
Hasbullah juga yang senantiasa memberi sokongan kepada mereka itu. Sekali-kali
ia datang ke Sumedang bukan sedikit pembawaannya. “ Tidak, tak mungkin begini
selamanya, selalu menyusahkan orang tua, “ kata Zubaidah dengan suara yang agak
keras dan tetap. “
5. Haji
Jaenadi : Pemarah
Ia
membulatkan tinjunya, menggertakkan gerahamnya, sednang matanya berapi-api
rupanya. “ Dia... ? Ya, dia gemar akan tari... jadi dia akan...? Tidak, “
demikia keluar dari mulutnya yang bulat, “ tidak sekali-kali “
4.
Latar
A. Tempat
1.
Sumedang
" Saleh dan Aminah dua
bersaudara. Yang laki-laki berumur 12 tahun, duduk di kelas 5 di kota sumedang.
“
2.
Bandung
“ bukan dua orang saja anaknya, yang
sulung bersekolah di Osvia, sekolah menak di Bandung. “
3.
Ruang makan
“ Ia berdiri di kamar makan, seraya
melayangkan mata berkeliling, terutama ke atas meja. “
4.
Kantor
“ Ring,ring...” belum habis lagi
dengung lonceng yang di bunyikan patih di atas meja tulis dalam kantornya. “
B. Suasana
1.
Tegang :
terlihat dari Kosim tertegun, darah naik ke mukanya
Terlihat juga pada Abdulhalim naik darah
2.
Sedih :
terlihat dari raut wajah Zubaidah yang berubah jadi
Muram, dan meneteskan air matanya
C. Waktu
a.
Pagi
“ malam sudah binasa, jangkanya akan
hilang telah tiba. Cahaya sudah terbit di dalam gelap gulita. Jendela! fajar
telah tiba menyingsing. “
b.
Malam
“ malam. Hitam gelap, seolah-olah,
tak kan ada kesudahannya. Azal yang tak dapat dipikirkan. “
5.
Alur
alur
yang digunakan dalam novel tersebut adalah alur maju
6.
Susutpandang
susut
pandang yang digunakan dalah orang ketiga, karena Dalam novel terdapat kata dia
dan nama tokohnya.
7.
Gayabahasa
Bahasa yang digunakan dalam novel tersebut menggunakan
bahasa Melayu dan juga terdapat bahasa Belanda. Di dalam novel ini juga
terdapat banyak majas.
8.
Amanat :
1.
Harta dan pangkat yang kita miliki sekarang
ini bukanlah segalanya, semua itu bisa hilang begitu saja, kapan saja, dan
dengan cara yang bagaimana pun
2.
Kita harus mempunyai pendirian terhadap
sesuatu yang akan kita jalani
3.
Jangan terlalu memanjakan anak kita, karena
itu terkadang tidak membangun kedisiplinan bagi dirinya
4.
Memikirkan matang-matang apa yang akan terjadi
selanjutnya, jangan gegabah dan tergesa-gesa.Syukuri apa yang ada dan apa yangh
kita miliki, hidup adalah anugrah yang harus dijaga.
UnsurEkstrinsik
1.
Nilaiagama
Walau Zubaidah mngalami kesulitan
dan kesusahan dalam berumah tangga, dia tetap besabar dan bedoa kepada Allah
dan enyerahkan segalanya kepada Allah.
2.
Nilaimoral
Dalam hidup ini kita seharusnya tidak hidup dalam sifat
sepeti Suria, jadi lah orang yang tidak sombong dan angkuh. Bertanggung
jawablah atas apa yang telah diberikan. Dan bersyukurlah dengan segala yang
dimiliki.
3.
Nilaisosial
Jadilah manusia yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.
Jadilah manusia yang saling menghormati sesama dan menyayangi. Janganlah jadi
manusia yang suka merendahkan orang lain dan menyepelekan segala sesuatu walau
sekecil apa pun.
4.
Keunggulan
Buku ini buku yang sangat layak dibaca oleh kalangan mana
saja, buku ini banyak mengajarkan bagaimana caranya menjalani hidup yang terasa
singkat ini. Buku ini menggunakan bahasa dan adat yang mudah dimengerti dan
dapat diterima dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini juga sangat mempu
membimbing hidup pembacanya untuk tidak bersikap seperti yang ditampilkan tokoh
Suria.
5.
Kelemahan
Buku ini memiliki sedikit kelemahan, terutama dari segi
bahasa. Bahasa yang dilampirkan dalam novel tersebut cukup sulit untuk
dipahami, terlebih lagi bagi pembaca di kalangan awam seperti kita ini, juga
seperti siswa seperti saya.
6.
Kesimpulan
Novel ini layak dibaca untuk setiap
kalangan. Novel ini menceritakan gaya hidup yang sama sekali tidak boleh untuk
diterapkan dala kehidupan kita. Memberikan pengarahan untuk tidak menjadi
manusia yang hidup dengan keangkuhan dan juga menyadarkan akan menghargai
sesuatu sekecil apapun