beranda

Minggu, 04 Desember 2016

EyD

PUISI

Puisi
            Puisi adalah ungkapan, perasaan, pengalaman yang dialami seseorang atau pengarang wajib tertulis yaitu puisi.
            Jenis puisi
  1. Puisi lama
Ciri-ciri pokok
  1. (-) pengarang
  2. Statis wajib kaku
  3. Kerajaan
Jenis puisi lama
  1. Pantun
Ciri-ciri pokok
a.       Ab-ab
b.      Indonesia
c.       Baris 1-2 disebut sampiran
Baris 3-4 disebut isi
1 bait => 4 baris
1 baris =>
Minimal 4 kata
Maksimal 5 kata
Contoh :
            Bukan batu sembarang batu = a
            Kalau batu dari Bandung = b
            Bukan guru sembarang guru = a
            Kalau guru terus berjuang = b
  1. Karmina
Ciri-ciri pokok
1 bait disebut => 2 baris
Baris 1 disebut sampiran
Baris 2 disebut isi
Sajak (aa)
Contoh :
            Keripik ubi sangat pedas = a
            Jadi siswa harus cerdas = a
  1. Gurindam
Ciri-ciri pokok
1 bait => 2 baris
Baris 4 disebut syarat
Baris 2 disebut isi
Sajak (aa)
Berasal dari India/ tamil
Contoh :
            Tema : pendidikan
            Jika kita rajin belajar
            Hidup kita pasti pintar


  1. Syair
Ciri-ciri pokok
a)      Aaaa
b)      Arab
c)      Cerita
d)     Tidak ada sampiran
e)      1 bait => 4 baris
Terdiri dari beberapa bait.
Contoh :
            Berbagai buku berisi ilmu
            Ilmu buku sangat bermutu
            Menjadikan orang semakin maju
            Karena ilmu ada di buku
  1. Pantun berkait
Ciri-ciri pokok
a.       1 bait => 4 baris
b.      Beberapa bait
Contoh:
            Pak Tani pergi ke ladang
            Sampai di ladang menanam jagung
            Rumput dan sampah jangan dipandang
            Lingkungan harus dijaga dan rapi
                        Sampai di ladang menanam jagung
                        Jagung disiram dengan air kali
                        Lingkungan harus dijaga dengan rapi
                        Agar terlihat indah dan rapi
EYD-1
1.      Penggabungan kata Maha
a.       Bila kata Maha diikuti kata dasar. Maka, harus serangkai.
Contoh: Mahabesar, Mahakuasa.
b.      Bila kata Maha diikuti kata bantu. Maka, katanya harus berpisah.
Contoh: Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kecuali Maha Esa.
2.      Gabungan kata
a.       Gabungan kata bila mendapat imbuhan diawal atau diakhir. Maka harus serangkai.
Contoh: Tanggung jawab, Bertanggung jawab.
b.      Gabungan kata bilangan mendapat imbuhan di awal dan di akhir.
Contoh: tanggung jawab.
3.      Partikel
a.       Lah, kah, tah. Wajib serangkai.
Contoh: apakah, apalah.
b.      Per dalam fungsi partikel wajib=> demi, tiap, mulai. Maka wajib terpisah.
Dan imbuhan wajib serangkai.
Contoh: Gaji PNS naik Per Januari 2017. Anak itu masuk per satu ke kelas.
c.       Pun
Adapu, ataupun, andaipun, betapapun, bagaimanapun, biarpun, maupun, meskipun, kapanpun. Maka wajib serangkai.

Senin, 14 November 2016

RESENSI NOVEL KATAK HENDAK JADI LEMBU


Oleh : KOMSARIA POHAN 
           SELVIA YUSTITA PANE


Resensi Novel Katak Hendak Jadi Lembu
IdentitasBuku
            Judul Buku                  : Katak Hendak Jadi Lembu
            Pengarang                   : N. St. Iskandar
            Penerbit                       : Balai Pustaka
            Tahun Terbit                : 1993
Kepengarangan
            Nur Sutan Iskandar yang telah menulis karya sastranya tak kurang dari 80 judul buku lahir di Maninjau, tanggal 3 Nopember 1893. Semenjak Nur Sutan Iskandar bekerja di Balai Pustaka ia menerbitkan hasil karyanya yang awalnya berjudul Apa Dayaku Karena Aku Perempuan (1992). Dengan hasil kerja keras dan keteguhannya dalam dunia sastra membuat Nur Sutan Iskandar menerbitkan berturut-turut buku yang berjudul : Cinta yang Membawa Maut, Salah Pilih, Hulubalang Raja, Neraka Dunia, Mutiara. Selain mempersembahkan hasil karya sastranya dalam menulis, Nur Sutan Iskandar juga menulis buku bacaan dan terjemahan buku dari luar negeri.
ResensiNovelKatakHendakJadiLembu
            Suriah, suami dari Zubaidah yang memiliki 3 orang anak, anaknya yang laki-laki bernama Saleh yang kira-kira berusia 12 tahun, yang sudah duduk di kelas 5 di kota Sumedang. Dan adik perempuannya Aminah yang berusia kurang lebih 9 tahun, baru duduk di kelas 2 di sekolah yang sama, tidak hanya dua orang itu saja, suria juga memiliki anak sulung yanh bersekolah di Osvia, sekolah menak di Bandung. Suriah adalah suami yang terkesan pemalas, pantang kerendahan, dan perkataanya pantang untuk dipatahkan. Suriah sangat tidak adil besikap kepada setiap anakna, dia lebih senang terhadap anak sulungnya yang bersekolah di Bandung, sedangkan dengan dua anaknya lagi dia bersikap acuh tak acuh, bagai tak peduli saja. Namun tidak untuk Zubiedah, sikap Zubaidah kepada dua anknya itu berbanding langit dan bumi kepada Suria, Zubaidah sangat menyayangi kedua anaknya itu. Dia selalu memberikan perhatian lebih dan kasih sayang yang sepantasnya.
Rumah tangga Zubaidah dan Suria sesungguhnya tidaklah seelok yang terlihat, bahkan rumah tangga mereka tiada berkecukupan. Walau begitu Suria orang tidak pernah sadar diri dengan keadaannya, ia selalu ingin berada di antara orang-orang terpandang dan dengan derajat yang sama. Zubaidah yang senantiasa menangguhkan perbuatan Suria, bahkan Zubaidah laj yang berhadapan dengan orang warung karena hutang yang Suria miliki dimana-mana. Zubaidah selalu memikirkan tentang rumah tanganya dan anak-anaknya. Bahkan Zubaidah meningat tentang maa di mana Suria masih mudah dulu,Suria adalah anak dari Haji Zakaria, dan keluarga mereka adalah golongan orang berada ddi negeri itu. Hal tersebut menyebabkan Suria manja dan tinggi hati. Meskipun masa remaja Suria masih magang  yang tiada bergajitapi gaya dan lagaknya lebih daripada juru tulis  dan angkuh serupa jaksa.
Haji Zakalia bersahabat sangat akrab dengan Haji Hasbullah di Tasikmalaya. Haji Hasbullah adalah ayah dari Zubaidah, kedua Haji itu sangat akrab sejak kecil bahkan seperjalanan untuk sama-samapergi ke tanah suci. Kehidupan Haji Hasbullah lebih kaya dan beruntung. Ia menjadi khatib yang baik hati dan ramah. Dia mendidik anaknya Zubaidah menjadi anak yang sopan santun, berbudi pekerti, dan mengajarkan tentang agama. Dengan engetahuisikap baik Zubaidan, Haji Zakaria meminta kepada HajiHasbuah untuk menikahkan Zubaidah denga anaknyaSuria yanghendak di angkat menjadi juru tulis pembantu. Apa boleh buat, permintaan dari sahabat karibnya itu diterima oleh Haji Hasbullah tanpa meminta persetujuan dari Zubaidah.
Akhirnya Zubaidah dinikahkan oleh Suria tanpa diawali dengan rasa suka dan cinta. Akan tetapi perkawinan mereka tidak bisa dikatakan tidak bahagia, mungkin saja perangai Suria akan berubah ketika sudah menikah nanti. Namun kenyataan tidak seperti itu, setelah Hji Zakaria meningga tabiat Suria bertambah menjadi-jadi, ia semakin congkak dan sombong. Harta warisan yang ditinggalkan orang tuanya kandas sudah, hawa nafsu tak dapat ditahan Suriah. Ketika Zubaidah melahirkan anaknya yang masih kecil yaitu Abdulhalim. Tiga tahun Suria meninggalkan Zubaidah sendiri sambil memelihara anak yang masih kecil sambil selalu berdoa kepada Allah. Suria yang hanya berfoya-foya saja baru teringat kebenaran, baru timbul sesal atas kecerobohannya. Suria pulang kembali ke rumah Zubaidah, dan setelah dua tahun berlangsung dia pun diangkat menjadi juru tulis yang dipindahkan ke kantor Patih Sumedang. Sementara anaknya Abdulhalim tinggal di Tasikmalaya bersama dengan neneknya. Dia bersekolah di sekolah belanda dan kemudian ke sekolah menak di bandung setelah berusia 6 tahun.
Selain menyekolahkan cucunya itu, Haji Hasbullah juga memberikan bantuan kepada keluarga Suria, jika mereka datang tidak sedikit mereka membawa bahan pangan sebagai buah tangan. Tidak hanya it, Zubaidah juga selalu menceritakan kepedihan rumah tangganya kepada orang tuanya. Sikap sombong Suria tidak kurun berubah, begitu juga ketika di kantor. Bahkan kepada Haji Junaedi yaitu seorang yang bepangkat tinggi di kantor melebihi Suria, memikirkan perangai menteri itu. Ia berkata dalam hatinya, bahwasanya benar yang dikatakan orang di kota. Wajar saja jika banyak orang yang mengingatkanku supaya jangan berkenalan dengan orang seperti dia, dia adalah orang yang gila hormat, sombong, dan perkataannya yang selalu meninggi. Suatu hari di kantor Suria, ia mendengar tentang lowongan pekerjaan menjadi klerek. Kemudian ia meminta bantuan kepada atasannya untuk mengirimkan permohonan dirinya menjadi klerek. Suria memberitahu Zubaidah bahwa ia akan segera diangkat menjadi klerek. Zubaidah semakin cemas dengan tingkahlaku suaminya yang semakin hari semakin menyombongkan dirinya kepada orang lain karena kabar kenaikan pangkatnya yang belum pasti. Sekarang, hanya Abdulhalimlah yang dapat menyenangkan hati Zubaidah karena kabar diterimanya Abdulhalim menjadi kandidat amtenar di kantor kabupaten Bandung. Dan kemudian Abdulhalim menikah dengan anak jaksa kepala. Dengan gaya hidup sombong yang dijalani Suria kemalangan terus menimpa Suria terus-menerus. Ia tidak jadi diangkat menjadi klerek. Bahkan ia gagal untuk menikahi wanita lain, Fatima. Zubaidah selalu memberikan nasehat dan pengarahan kepada suaminya yang bersikap sombong itu. Usaha Zubaidah menasehati suaminya sia-sia.
Zubaidah mengalami sakit yang parah, karena sakit jantung Zubaidah pun meninggal. Segala upaya telah dilakukan Abdulhalim dan keluaraganya untuk menyembuhkan Ibu yang sangat ia sayangi itu. Usahanya dalam menyembuhkan  sia-sia. Tak berapa lama mengidap penyakit jantung tersebut Zubaidah meninggal dunia. Setelah kematian istrinya, Suria diusir dari rumah Abdulhalim.
Sekarang tinggalah Suria yang hidup di jalanan dan hidup dengan kemelaratan setelah kematian istrinya. Ia baru menyadari semua kesalahanya terhadap anak-bininya, ia begitu menyesali perbuatan bodoh yang telah dilakukannya.

Unsurintrinsik
1.      Tema              : sifat kesombongan dan keangkuhan yang seketika menghancurkan
                                      Segalanya, keluarga, karir bahkan menghancurkan diri sendiri.
2.      Tokoh
1.      Suriah             : seorang menteri kabupaten, suami dari Zubaidah, dan
  Anak dari Haji Zakaria.
2.      Zubaidah         : istri dari Suriah dan anak dari Haji Hasbullah
3.      Abdulhalim     : anak pertama Suriah dan Zubaidah
4.      Saleh                           : anak pertama dari Suriah dan Zubaidah
5.      Aminah                       : anak ketiga dari Suriah dan Zubaidah
6.      Haji Zakaria                : Ayah dari Suria
7.      Haji Hasbullah            : Ayah dari zubaidah
8.      Khadijah                     : Figuran
9.      Kosim                          : figuran
10.  R. Atmadi N               : juragan patih
11.  Haji Jaenudi                : figuran
12.  Nyai Salmah                : figuran
13.  Fatimah                       : anak dari Haji Jaenadi dan Nyai Salamah
14.  Sastrawijaya                : Figuran
15.  Suminta                       : figuran
16.  Hamzah                       : Figuran

3.      Penokohan
1.      Suria               :  Angkuh
“ Sudah hampir pukul tujuh, Anak-anak sudah... Acapkali benar Akang berelalai-lalai, tidak marahkah Juragan Patih? “ 
Anak emas!-dalam segala hal juragan patih menyerah saja kepada Aakang “
2.      Zubaidah         : Penyanyang
“ baik-baik di jalan, Anak,_jangan berlari, Enah... nanti jatuh, Nak. Jaga dirimu, Aleh. Awas, sado, oto...! “ demikian kata Zubaidah dengan kasih sayang yang tergambar terang dalam seri dan caya muka.
3.      Abdulhalim     : Pemarah
Abdulhalim naik darah. Dengan tidak disangka-sangka ia pun merentak dan berkata dengan kasar dan keras, “ Tak jua berubah tingkah-lakunya! Meskipun Ibu... sudah meyampaikan pendapat kita kepadanya! Tak tahan aku lagi, biar dia... enyah dari sini. “
4.      Haji Hasbullah : Suka menolong
Haji Hasbullah juga yang senantiasa memberi sokongan kepada mereka itu. Sekali-kali ia datang ke Sumedang bukan sedikit pembawaannya. “ Tidak, tak mungkin begini selamanya, selalu menyusahkan orang tua, “ kata Zubaidah dengan suara yang agak keras dan tetap. “
5.      Haji Jaenadi    : Pemarah
Ia membulatkan tinjunya, menggertakkan gerahamnya, sednang matanya berapi-api rupanya. “ Dia... ? Ya, dia gemar akan tari... jadi dia akan...? Tidak, “ demikia keluar dari mulutnya yang bulat, “ tidak sekali-kali “

4.      Latar
A.    Tempat
1.      Sumedang
" Saleh dan Aminah dua bersaudara. Yang laki-laki berumur 12 tahun, duduk di kelas 5 di kota sumedang. “
2.      Bandung
“ bukan dua orang saja anaknya, yang sulung bersekolah di Osvia, sekolah menak di Bandung. “
3.      Ruang makan
“ Ia berdiri di kamar makan, seraya melayangkan mata berkeliling, terutama ke atas meja. “

4.      Kantor
“ Ring,ring...” belum habis lagi dengung lonceng yang di bunyikan patih di atas meja tulis dalam kantornya. “
B.     Suasana
1.      Tegang            : terlihat dari Kosim tertegun, darah naik ke mukanya
   Terlihat juga pada Abdulhalim naik darah
2.      Sedih               : terlihat dari raut wajah Zubaidah yang berubah jadi
  Muram, dan meneteskan air matanya

C.    Waktu
a.       Pagi
“ malam sudah binasa, jangkanya akan hilang telah tiba. Cahaya sudah terbit di dalam gelap gulita. Jendela! fajar telah tiba menyingsing. “
b.      Malam
“ malam. Hitam gelap, seolah-olah, tak kan ada kesudahannya. Azal yang tak dapat dipikirkan. “

5.      Alur
alur yang digunakan dalam novel tersebut adalah alur maju
6.      Susutpandang
susut pandang yang digunakan dalah orang ketiga, karena Dalam novel terdapat kata dia dan nama tokohnya.
7.      Gayabahasa
Bahasa yang digunakan dalam novel tersebut menggunakan bahasa Melayu dan juga terdapat bahasa Belanda. Di dalam novel ini juga terdapat banyak majas.
8.      Amanat :
1.      Harta dan pangkat yang kita miliki sekarang ini bukanlah segalanya, semua itu bisa hilang begitu saja, kapan saja, dan dengan cara yang bagaimana pun
2.      Kita harus mempunyai pendirian terhadap sesuatu yang akan kita jalani
3.      Jangan terlalu memanjakan anak kita, karena itu terkadang tidak membangun kedisiplinan bagi dirinya
4.       Memikirkan matang-matang apa yang akan terjadi selanjutnya, jangan gegabah dan tergesa-gesa.Syukuri apa yang ada dan apa yangh kita miliki, hidup adalah anugrah yang harus dijaga.
                                                  

UnsurEkstrinsik
1.      Nilaiagama
Walau Zubaidah mngalami kesulitan dan kesusahan dalam berumah tangga, dia tetap besabar dan bedoa kepada Allah dan enyerahkan segalanya kepada Allah.
2.      Nilaimoral
Dalam hidup ini kita seharusnya tidak hidup dalam sifat sepeti Suria, jadi lah orang yang tidak sombong dan angkuh. Bertanggung jawablah atas apa yang telah diberikan. Dan bersyukurlah dengan segala yang dimiliki.
3.      Nilaisosial
Jadilah manusia yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. Jadilah manusia yang saling menghormati sesama dan menyayangi. Janganlah jadi manusia yang suka merendahkan orang lain dan menyepelekan segala sesuatu walau sekecil apa pun.
4.      Keunggulan
Buku ini buku yang sangat layak dibaca oleh kalangan mana saja, buku ini banyak mengajarkan bagaimana caranya menjalani hidup yang terasa singkat ini. Buku ini menggunakan bahasa dan adat yang mudah dimengerti dan dapat diterima dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini juga sangat mempu membimbing hidup pembacanya untuk tidak bersikap seperti yang ditampilkan tokoh Suria.
5.      Kelemahan
Buku ini memiliki sedikit kelemahan, terutama dari segi bahasa. Bahasa yang dilampirkan dalam novel tersebut cukup sulit untuk dipahami, terlebih lagi bagi pembaca di kalangan awam seperti kita ini, juga seperti siswa seperti saya.
6.      Kesimpulan
Novel ini layak dibaca untuk setiap kalangan. Novel ini menceritakan gaya hidup yang sama sekali tidak boleh untuk diterapkan dala kehidupan kita. Memberikan pengarahan untuk tidak menjadi manusia yang hidup dengan keangkuhan dan juga menyadarkan akan menghargai sesuatu sekecil apapun